Ayo Jadi Agen Pulsa HP Termurah


<$

$>

Kisah sukses Korban PHK Menjadi Pengusaha Garmen

Berbekal dana pinjaman dari keluarga dan pengalaman karier sebelumnya, Johanes Daloma nekat mendirikan usaha garmen sendiri. Salah satu merek produknya, Andre Laurent, kini tercatat sebagai salah satu pencetak penjualan terbesar untuk kategori pakaian pria di jaringan Matahari Department Store.

Bagi mereka yang rajin berbelanja di Matahari Department Store, pasti tak asing lagi dengan merek pakaian pria Andre Laurent. Produknya yang terdiri dari kemeja, celana panjang, jas dan jaket (formal dan informal) mengisi rak-rak pakaian pusat belanja milik Grup Lippo itu. Merek busana pria ini bersaing ketat dengan pemain sejenis antara lain Executive, Cardinal, dan Lawell. Kendati pesaingnya amat banyak, merek Andre Laurent mampu eksis. Bahkan, kinerja merek yang telah berusia 23 tahun ini belakangan terus meningkat.

Boleh jadi, karena kinerjanya yang oke itulah, pertemuan kami dengan Johanes Daloma, pemilik merek Andre Laurent terasa nyaman. Senyum ramah di wajah Presdir PT Bumi Pusaka Adhi Perkasa (BPAP), perusahaan pengelola merek ini, menyambut kami ketika menemuinya di Restoran Raja Laut di Jl. A. Yani Jakarta Timur – resto seafood yang dikembangkan setelah sukses sebagai pengusaha garmen.

Johanes menceritakan, berdirinya BPAP diawali kepahitan. Sebelum terjun ke bisnis garmen, ia bersama-sama temannya sekantor kehilangan pekerjaan, alias di-PHK-kan, karena tempat mereka bekerja, PT Dua Perintis, pemegang merek Executive 99, kolaps akibat krisis ekonomi saat itu. Meski sempat bingung mau kerja apa, Johanes yang sebelumnya banyak berkecimpung di bagian pemasaran garmen, memutuskan untuk membuka perusahan garmen baru. ”Saya mengajak kawan-kawan yang pernah satu company di Executive 99 yang dilikuidasi tahun 1985,” ujar pria kelahiran Jakarta 1 Mei 1949 ini.

Pada 1985 itulah BPAP berdiri. Lalu, ia merekrut sekitar 30 karyawan dari staf hingga tukang jahit. Dari mana modalnya? Sebagian pinjaman dari keluarga dan sebagian lagi dari pemasok. Untuk lokasi produksi, ia memilih sebuah rumah di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. “Pada saat itu kami hanya bermodal mesin Butterfly Singer yang pakai motor tempel,” katanya mengenang. Mengenai sokongan dari pemasok, menurutnya, karena bisnis garmen ini pada dasarnya kepercayaan, maka ia bisa mendapatkan kredit dari pemasok.

Pocky, Manajer Pemasaran dan Penjualan BPAP, mengakui secara finansial perusahaan ini tidak memiliki kapital yang besar, tetapi bosnya, Johanes, mampu membina kepercayaan para pemasok. Alhasil, mereka tetap mendukung dan memasok barang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. “Perusahaan selalu melakukan pembayaran dengan benar sesuai dengan ketentuan,” ujar Pocky.

Setelah 1,5 tahun berkembang, lokasi produksi pindah ke pabrik di kawasan Pulogadung. Menurut Johanes, menggarap bisnis garmen itu gampang-gampang susah. Pasalnya, bahan baku yang diterima dari pemasok kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan, misalnya warna bahan tidak sama atau kancing tidak cocok. Itulah sebabnya, di industri ini pelaku garmen harus memiliki kemampuan kontrol mutu yang baik. “Persaingan begitu ketat dan makin sulit eksis,” katanya.

Johanes mengakui, dengan skala seperti sekarang mengelola perusahaannya lebih rumit ketimbang ketika masih berbentuk home industry. Sebab, ia harus mengurus banyak orang dengan berbagai macam karakter. Sebagai contoh, di satu sisi, ada masalah dengan upah minimum regional (UMR), sedangkan di sisi lain, karyawan tidak mencapai kinerja seperti yang diharapkan perusahaan. “Pemerintah harusnya memberi insentif karena industri ini padat karya,” ujarnya sambil menyebutkan total karyawan di pabrik mencapai 130 orang.

Merek pertama yang diluncurkan BPAP adalah Lu Cent. Adapun merek Andre Laurent diluncurkan kemudian pada 1988. Selain Andre Laurent, BPAP juga mengembangkan merek Stefanel yang ditujukan sebagai uniform atau seragam kantor. Juga ada merek Junior yang membidik pasar anak-anak. Saat ini, Andre Laurent merupakan merek andalan BPAP. “Lu Cent lebih ke menengah-bawah, sedangkan Andre Laurent sedikit menengah-atas,” ujar pria yang selalu berpakaian rapi ini. Di department store, yang paling banyak diminati konsumen adalah celana, jaket dan kemeja dari merek Andre Laurent. Harganya Rp 100-200 ribu per potong untuk celana, dan Rp 400-600 ribu untuk jaket.

Selain menitipkan produknya di department store, BPAP melayani pula pesanan seragam. Tak hanya dari Jakarta, tapi juga dari kota-kota lain di daerah. Beberapa pelanggannya yaitu HSBC, ANZ, serta beberapa perusahaan farmasi dan sekolah. BPAP tidak mematok jumlah minimum pesanan. Contohnya, SMU Kanisius memesan tiap tahunnya secara rutin rata-rata 200 potong untuk acara pelepasan kelulusan.

Selain bermain di pasar lokal, BPAP pun pernah menjajal pasar ekspor seperti Australia, Malaysia dan Belanda. Hambatannya, menurut Johanes, karena perusahaannya relatif belum besar, konsentrasi untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal terpecah. Padahal standar yang diminta untuk masuk ke pasar ekspor sangat tinggi dan detail. “Dari Australia masih ada order 500-1.000 potong tergantung event. Kami bukan menolak, kalau bisa syukur, kalau tidak ya tidak mengejar,” katanya simpel.

Untuk memasarkan produknya, tampak jelas BPAP mengandalkan distribusi lewat department store. Salah satunya mitra terbesarnya adalah Matahari, dengan menerapkan sistem konsinyasi. Menurut Johanes, alasan ia bermitra dengan Matahari, lantaran department store ini cukup toleran terhadap mitra-mitranya. Selain itu, pertumbuhan gerai Matahari cukup tinggi, yakni bisa membuka hingga 10 gerai baru per tahun. Untuk mengimbanginya, BPAP juga harus mempersiapkan produk-produknya. Saat ini kapasitas produksi BPAP mencapai 15 ribu potong per bulan, padahal dulu hanya 1.000 potong per bulan. “Yang jelas, kami tidak asal bikin,” kata Johanes.

Uniknya, dalam memasarkan produknya, Johanes mengaku, BPAP tak memiliki bujet promosi yang jelas. Toh, Andre Laurent sering mengadakan kerja sama barter dengan beberapa radio berupa vocer belanja. Johanes menyebutkan, karena keterbatasan dana, promosi lebih banyak dengan pola below the line (BTL) dengan mengandalkan pramuniaga. “Jangan cuma mengharapkan satu orang beli, tapi bagaimana mengajak temannya atau keluarganya ikut beli juga,” ia berujar.

Diceritakan Johanes, di tengah perjalanan perusahaannya sempat terpuruk manakala krismon tahun 1998. Selain permintaan menurun, suplai bahan baku dari pemasok juga sulit. Untuk mengatasi situasi itu ia menyesuaikan jumlah produksi dengan kemampuan perusahaan.

BPAP pun berusaha selektif. Saking selektifnya, perusahaan ini tak segan-segan menarik produknya dari pasaran jika dinilai tidak cocok. Alasannya, hal itu akan berpengaruh terhadap citra produk perusahaan.

Untuk menyiasati persaingan, lanjut Johanes, BPAP tetap bertumpu pada kualitas. Khususnya, pola (pattern) dan kenyamanan dalam mengenakan produk fashion. Ia menerangkan, orang Indonesia mencari merek tertentu bukan karena harganya, melainkan lebih pada pattern-nya. “Orang pakai sepatu beberapa bulan rusak bukan karena modelnya, tetapi karena pattern-nya,” ucap pehobi renang dan jogging ini. Adapun inovasi yang dilakukannya pada produk Andre Laurent yaitu menyediakan kantong kecil yang ada di dalam saku celana. Fungsinya sebagai tempat handphone atau korek api.

Untuk mengembangkan usaha garmennya ini, Johanes mulai melirik segmen young generation. Menurutnya, selama ini merek Andre Laurent dikenal sebagai produk untuk kalangan profesional. Padahal target pasar untuk kalangan anak muda sangat besar. “Kami akan buat Andre Laurent versi young generation. Apalagi, di musim graduate,” ujarnya.

Menurut Gunawan S. Tejokusumo, Manajer Merchandising for Man Wears Matahari Department Store, brand Andre Laurent di Matahari termasuk yang banyak dicari saat ini. “Untuk celana dan jas peringkat tiga, di bawah The Executive dan Cardinal,” kata Johanes yang mengakui BPAP sudah lama bekerja sama dengan Matahari. Pertumbuhan dari tahun ke tahun menunjukkan grafik yang positif, rata-rata tumbuh belasan persen per tahun. “Penyebarannya cukup banyak, Batam hingga Ambon, dan hampir di seluruh gerai Matahari produknya ada.”

Oleh : Yuyun Manopol & Moh. Husni Mubarak

Sumber : swa.co.id dalam http://ruangmaya.wordpress.com/2009/03/11/korban-phk-yang-sukses-jadi-pengusaha-garmen/

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home